Suasana acara Bedah Buku Reset Indonesia di Gedung Pos Bloc Surabaya pada (27/12/2025), Foto: Muhammad Daffa Akbar
SURABAYA – Halaman Kantor Pos Pusat Kebonrojo, Surabaya, berubah menjadi lautan manusia pada Sabtu (27/12/2025) malam. Ratusan pemuda dan elemen masyarakat sipil memadati lokasi tersebut untuk menghadiri acara bedah buku "Reset Indonesia", sebuah forum literasi yang menyoroti kondisi sosial-politik bangsa terkini.
Antusiasme publik terhadap acara ini terbilang luar biasa. Radit Ananta Widya Wardana, perwakilan panitia penyelenggara, mengonfirmasi bahwa jumlah peserta yang hadir melampaui ekspektasi awal. "Kurang lebih yang hari ini datang insyaallah di atas 500 orang," ungkap Radit di sela-sela acara.
Salah satu sorotan utama dari acara ini adalah keberagaman asal peserta. Radit menjelaskan bahwa forum ini tidak hanya menarik minat warga Surabaya, tetapi juga dihadiri oleh komunitas-komunitas dari berbagai daerah di Jawa Timur, seperti Madura dan Madiun. Acara ini sendiri terselenggara berkat kolaborasi lintas elemen, termasuk Arek Gerak, Das Kapital, DDV Jatim, dan Project Arek.

Ibnu Ammar (20), seorang mahasiswa UIN Walisongo, menjadi salah satu bukti nyata besarnya daya tarik acara ini. Ia rela datang jauh-jauh dari Jombang khusus untuk mengikuti diskusi tersebut. Menurut Ammar, kehadirannya didorong oleh "hasrat" intelektual yang tumbuh dari diskusi-diskusi di kampusnya, serta keinginan untuk mendengarkan langsung penulis yang dianggap mampu menangkap kegelisahan masyarakat.
Membludaknya peserta dinilai bukan sekadar euforia, melainkan bentuk keresahan kolektif. Ammar menuturkan bahwa forum seperti ini penting untuk menyangkal narasi pemerintah yang seolah menggambarkan kondisi masyarakat Indonesia sedang baik-baik saja, padahal realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya.
Menanggapi iklim kebebasan berpendapat yang kerap dibayangi ketakutan atau represi, Ammar memberikan pandangan menarik yang mewakili semangat peserta muda lainnya. "Lawan dari takut adalah berani dan lawan berani adalah takut, tapi ada tindakan untuk mengatasi ketakutan itu," tegasnya.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan yang sarat gagasan ini, panitia menggelar sesi simbolis bertajuk "Merawat Ingatan". Sesi ini diisi dengan penyalaan 1000 lilin dan musikalisasi puisi sebagai bentuk dokumentasi perlawanan sipil yang damai.
SALAM PRODUKTIF!!
Editor: Ardian Reza Pahlevi

















