Mahasiswa Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) gelar doa bersama bagi para korban yang gugur dalam aksi demonstrasi yang ada di Indonesia baru-baru ini. Foto: Novita Kartika, Maharani Aulia Rahmawati dan Ardian Reza Pahlevi
Surabaya - Di bawah cahaya redup lilin dan sorotan flash handphone, puluhan mahasiswa Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) larut dalam suasana duka. Berbalut pakaian serba hitam, mereka berkumpul di depan Candi Penataran UWKS, Senin (08/09/2025). Mereka berkumpul dalam rangka doa bersama bagi para korban yang gugur dalam aksi demonstrasi di beberapa kota besar yang ada di Indonesia baru-baru ini.
Suasana hening berubah haru ketika mahasiswa satu per satu menaruh bunga mawar di atas foto korban. Tindakan simbolik ini seolah menegaskan, bahwa kehilangan satu jiwa adalah luka bagi seluruh bangsa.
Rizky Nuhan Maulana, Presiden Mahasiswa UWKS menekankan makna dari kegiatan ini yaitu untuk membangkitkan rasa kepedulian mahasiswa.
"Dengan adanya acara ini, kita menginisiasi untuk teman-teman mahasiswa itu agar timbul rasa kepeduliannya. Terkait aksi demonstrasi yang akhir-akhir ini terjadi di Indonesia itu kan juga gak cuma aksi demonstrasi saja, disitu ada juga korban jiwa yang sampai meninggal” ujar Rizki kepada Tim Redaksi AKTUAL.
Dalam penjelasan yang ia sampaikan, Rizky juga menitipkan pesan kepada pemerintah agar tidak memandang mahasiswa sebagai ancaman.
“Akhir-akhir ini kan banyak terjadi anarkis. Nah, itu mungkin ada beberapa oknum-oknum mahasiswa. Tetapi yang ingin kita sampaikan kepada pemerintah bahwasannya mahasiswa ini kita bisa loh menyampaikan aspirasi itu secara sopan dan juga santun. Seperti itu.” ujarnya.
Bagi generasi muda, Rizky mengingatkan bahwa demonstrasi boleh saja dilakukan, tapi harus didasari kajian ilmiah dan disampaikan dengan cara yang beradab.
Sementara itu, Abdul Muqit, Staf Politik dan Hukum Badan Eksekutif Mahasiswa UWKS, menegaskan bahwa simbol-simbol dalam doa bersama ini bukan sekadar formalitas.
“Sebenarnya kalau makna filosofis dari outfit hitam, terus lilin, terus tabur bunga tidak lain ya bela sungkawa, artinya kita berduka dan berharap dalam duka itu ada penerangan, kira-kira seperti itu. Dan yang paling ditekankan tamparannya ya ke pihak aparat biar mereka melihat ini loh, satu yang terluka satu Indonesia berduka“ ujar Muqit.
Tak hanya itu, Muqit juga menyampaikan harapan agar aparat dan pemerintah lebih berhati-hati dalam menangani demonstrasi.
“Soalnya ini bukan berurusan dengan materi ataupun harta, tapi ini tentang nyawa dan kalau sudah berhubungan dengan nyawa tentunya pasti semua orang akan berduka, harapannya dari pihak pemerintah terhususnya di aparat mereka lebih berhati-hati dan menghentikan atau mengeluarkan oknum-oknum yang sekiranya berpotensi melakukan demikian, termasuk oknum dari instansi aparat kepolisian” ungkapnya.
Doa bersama yang diakhiri dengan foto bersama itu meninggalkan pesan kuat: mahasiswa masih setia menjaga nurani bangsa. Dari lilin yang menyala hingga bunga yang terbaring di bawah foto-foto korban, Mahasiswa UWKS ingin menyuarakan bahwa tragedi ini tidak boleh terulang. Dalam duka, mahasiswa belajar untuk tetap peduli, tetap santun, dan tetap menjadi suara kebenaran.
Editor: Ardian Reza Pahlevi



















